Mediaanugrahhukum.com PEKANBARU – Pimpinan Wilayah Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PW SEMMI) Provinsi Riau menyampaikan apresiasi terhadap pendekatan pengamanan berbasis kemanusiaan yang diterapkan oleh Kapolda Riau, Irjen Pol. Dr. Herry Heryawan, dalam mengawal berbagai aksi penyampaian pendapat di muka umum yang berlangsung di Provinsi Riau.
Menurut Ketua Umum PW SEMMI Riau, Ihkram Mulya, terdapat perubahan paradigma yang patut dicatat dalam praktik pengamanan demonstrasi di Riau. Aparat kepolisian tidak lagi hadir semata sebagai instrumen pengendalian keamanan, tetapi sebagai penjaga ruang demokrasi yang menjamin hak-hak konstitusional warga negara untuk menyampaikan aspirasi secara aman, tertib, dan bermartabat.
Salah satu simbol yang menjadi perhatian publik adalah ketika jajaran Polda Riau menyambut massa aksi dengan kalimat “Selamat Datang Pejuang Aspirasi” serta memberikan bunga mawar kepada para demonstran. Dalam pandangan SEMMI Riau, tindakan tersebut bukan sekadar gestur seremonial, melainkan representasi filosofis dari pendekatan humanis yang menempatkan demonstran sebagai bagian sah dari ekosistem demokrasi.
“Bunga mawar yang diberikan kepada demonstran memiliki makna simbolik yang mendalam. Ia menunjukkan bahwa aspirasi masyarakat tidak dipandang sebagai ancaman yang harus dihadapi dengan pendekatan koersif, melainkan sebagai energi demokrasi yang perlu dihormati dan difasilitasi dalam koridor hukum serta konstitusi,” ujar Ihkram Mulya.
Dalam perspektif demokrasi modern, demonstrasi merupakan instrumen partisipasi publik yang memiliki legitimasi konstitusional. Karena itu, pengamanan yang mengedepankan dialog, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta pendekatan persuasif merupakan bentuk kematangan institusi negara dalam merespons dinamika masyarakat sipil.
SEMMI Riau menilai bahwa pola pengamanan yang diterapkan Polda Riau menunjukkan transformasi penting dari paradigma keamanan yang bersifat represif menuju paradigma pelayanan publik yang berorientasi pada perlindungan hak warga negara. Pendekatan tersebut tidak hanya memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian, tetapi juga berkontribusi terhadap terciptanya stabilitas sosial yang berkelanjutan.
Lebih lanjut, SEMMI Riau mencatat bahwa pendekatan de-eskalasi yang dikedepankan Polda Riau melalui komunikasi persuasif, fasilitasi dialog, dan pengawalan yang proporsional telah mampu menjaga berbagai aksi penyampaian aspirasi berlangsung secara kondusif tanpa mengurangi substansi kritik yang disampaikan masyarakat.
Namun demikian, PW SEMMI Riau juga mengingatkan bahwa penghormatan terhadap hak menyampaikan pendapat harus diimbangi dengan tanggung jawab moral dari seluruh peserta aksi. Mahasiswa dan elemen masyarakat sipil diharapkan tetap menjunjung tinggi etika perjuangan, mengedepankan argumentasi yang substansial, serta menghindari tindakan-tindakan anarkis yang berpotensi mencederai tujuan perjuangan itu sendiri.
SEMMI Riau meyakini bahwa keamanan dan kebebasan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan beriringan apabila dibangun di atas fondasi dialog, kepercayaan, penghormatan terhadap hukum, serta komitmen bersama untuk menjaga ruang demokrasi yang sehat.
Atas dasar itu, PW SEMMI Riau berharap pola pengamanan humanis yang telah diperlihatkan oleh Kapolda Riau dan seluruh jajaran Polda Riau dapat terus dipertahankan dan dikembangkan sebagai model democratic policing yang berkeadaban, tidak hanya bagi Provinsi Riau tetapi juga sebagai referensi bagi pengelolaan keamanan demokratis di tingkat nasional.
“Ketika demonstran disambut dengan penghormatan, ketika bunga mawar menggantikan stigma permusuhan, dan ketika dialog menjadi pilihan utama, maka sesungguhnya kita sedang menyaksikan demokrasi bekerja dalam bentuknya yang paling beradab,” tutup Ihkram Mulya.
SEMMI BERMARWAH
Dari Riau Memimpin Indonesia.





