MEDAN – Koordinator Wilayah Sumatera Utara BEM Kristiani Seluruh Indonesia, Yosef Aprian Simanjuntak, melayangkan kecaman keras terhadap lambannya penanganan konflik Chapel Universitas Sumatera Utara (USU) yang kini berujung pada dugaan kriminalisasi tokoh agama.
BEM KSI Sumut menilai pihak kepolisian daerah abai dan gagal total dalam menjamin hak konstitusional warga negara untuk beribadah secara aman dan damai.
Atas dasar itu, Yosef Aprian Simanjuntak secara tegas mendesak Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo untuk segera mengevaluasi dan mencopot Kapolda Sumatera Utara dari jabatannya karena dianggap membiarkan intoleransi berlarut-larut di wilayah hukumnya. Ironi Bulan Kemerdekaan di Sumatera UtaraYosef menyampaikan kekecewaan mendalam atas situasi yang menimpa jemaat dan mahasiswa penggunan Chapel Oikumene POUK USU.
Di saat seluruh elemen bangsa bersiap menyambut dan merayakan bulan kemerdekaan Republik Indonesia, ruang-ruang ibadah umat Kristiani di dalam lingkungan akademis justru mendapatkan pembatasan, pengosongan paksa, hingga penguncian fasilitas. “Ini adalah ironi terbesar.
Di bulan kemerdekaan ini, kami melihat kenyataan pahit bahwa umat Kristen di Sumatera Utara belum merdeka seutuhnya untuk menjalankan ibadah berdasarkan keyakinan mereka. Konstitusi menjamin tiap-tiap warga negara untuk beribadah, namun implementasinya di lapangan justru tersumbat oleh ego birokrasi dan pembiaran aparat,” tegas Yosef Aprian Simanjuntak dalam rilis pers resminya, Senin (10/8/2026).
Desakan Copot Kapolda Sumut dan Hentikan KriminalisasiKonflik yang awalnya berupa sengketa pemanfaatan aset antara pihak rektorat dan jemaat kini kian meruncing setelah adanya pelaporan hukum terhadap pendeta pelayan Chapel USU. Langkah hukum tersebut dinilai BEM KSI Sumut sebagai bentuk intimidasi dan kriminalisasi nyata terhadap simbol serta pemuka agama yang hanya mencoba mempertahankan hak spiritualitas jemaatnya. “Kepolisian seharusnya hadir sebagai penengah yang adil dan pelindung kebebasan beragama, bukan menjadi instrumen untuk mengkriminalisasi hamba Tuhan yang sedang melayani. Karena Kapolda Sumut terbukti gagal menjaga marwah toleransi beragama dan gagal memberikan rasa aman di Sumatera Utara, kami meminta Kapolri mengambil langkah tegas: Copot Kapolda Sumut!” seru Yosef dengan nada keras.
Ancaman Eskalasi Massa MahasiswaBEM KSI Sumut memperingatkan bahwa polemik Chapel USU bukan lagi konflik internal universitas semata, melainkan sudah menjadi preseden buruk bagi masa depan toleransi beragama di dunia pendidikan tinggi tanah air. Aliansi mahasiswa menegaskan akan terus mengawal kasus ini hingga blokade gereja dibuka kembali dan proses pelaporan terhadap pendeta dihentikan.
Jika tuntutan tersebut diabaikan oleh pihak kepolisian dan otoritas kampus, BEM KSI Sumut bersama aliansi pemuda gereja lintas daerah menyatakan siap menggalang aksi unjuk rasa dengan gelombang massa yang jauh lebih besar di Medan maupun Markas Besar Polri di Jakarta.
#Red











